top of page
Search

Mengenal Lebih Dekat Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.I.Kom., M.Kom.

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Sep 30
3 min read

Updated: Oct 3

Penulis, dan Penggiat Literasi Digital yang Menjembatani Teknologi, Komunikasi, Pendidikan, dan Informasi



KAVITA Media Net, Makassar — Nama Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.I.Kom., M.Kom. dikenal dalam sejumlah ruang akademik, penelitian, literasi digital, serta kajian komunikasi dan teknologi informasi. Kiprahnya memperlihatkan persinggungan antara dunia pendidikan, teknologi, komunikasi, penelitian, dan pengembangan literasi masyarakat di tengah perubahan digital.


Yusrin lahir di Kendari pada 13 Januari 1976. Ia menempuh pendidikan Sarjana Manajemen Informatika di STMIK Dipanegara Makassar, kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin dan Ilmu Komputer di Universitas Budi Luhur Jakarta.


Lintasan pendidikan tersebut membentuk kombinasi keilmuan yang cukup khas: informatika, ilmu komunikasi, dan teknologi informasi.


Dari Teknologi Informasi ke Komunikasi Digital

Yusrin tidak hanya menempatkan teknologi sebagai persoalan perangkat dan sistem komputer. Dalam berbagai tulisan dan materi akademiknya, teknologi juga ditempatkan sebagai bagian dari perubahan cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, dan memproduksi informasi.


Dalam materi pengajaran yang dipublikasikannya, bidang yang dibahas mencakup teknologi komunikasi dan informasi, revolusi komunikasi, masyarakat, telekomunikasi dan jaringan, e-commerce, konvergensi media, hingga perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia.


Persinggungan antara teknologi dan komunikasi tersebut kemudian menjadi salah satu benang merah dalam aktivitas akademiknya.


Pengajar dan Peneliti

Yusrin tercatat sebagai dosen pada bidang Manajemen Informatika di STMIK/Universitas Handayani Makassar serta mengajar pada sejumlah perguruan tinggi swasta di Sulawesi. Ia juga aktif dalam kegiatan penelitian dan pengembangan materi pembelajaran.


Bidang yang menjadi perhatian akademiknya antara lain sistem informasi, komunikasi data, analisis dan desain sistem, multimedia komunikasi, komunikasi terapan, serta literasi media digital. Ia juga pernah mengembangkan materi terkait manajemen data dan informasi, termasuk Big Data dan Data Science.


Dengan latar tersebut, aktivitasnya berada pada wilayah yang mempertemukan teknologi, pendidikan, komunikasi, dan masyarakat.


Aktif di LSP3I

Dalam aktivitas kelembagaan, Yusrin tercatat sebagai periset dan Ketua Bidang Kajian Digital Education dan AI pada Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Tinggi Indonesia (LSP3I) Pusat Makassar serta penggiat literasi media ICT.


Keterlibatannya di bidang kajian pendidikan dan teknologi memperlihatkan perhatian terhadap persoalan yang lebih luas daripada sekadar pengembangan teknologi.

Baginya, teknologi perlu dibaca dalam konteks sosial: bagaimana informasi diproduksi, bagaimana masyarakat mengonsumsi informasi, bagaimana media membentuk opini, dan bagaimana pendidikan harus beradaptasi terhadap perubahan teknologi.


Menulis tentang Media, Politik, dan Ruang Digital

Salah satu karya Yusrin adalah Media Baru dalam Komunikasi Politik: Komunikasi Politik di Dunia Virtual. Buku tersebut membahas perubahan komunikasi politik di era media baru, termasuk munculnya ruang publik digital dan perubahan pola komunikasi dari model yang cenderung top-down menuju komunikasi yang lebih terbuka dan terdesentralisasi.

Karya tersebut menunjukkan salah satu perhatian penting Yusrin: teknologi tidak pernah benar-benar netral dari perubahan sosial.


Ketika teknologi komunikasi berubah, cara masyarakat memperoleh informasi juga berubah. Ketika media berubah, pola komunikasi politik ikut berubah. Dan ketika informasi menjadi semakin mudah diproduksi dan disebarkan, kemampuan masyarakat untuk memilah informasi menjadi semakin penting.


Literasi Informasi dan Media

Perhatian tersebut juga terlihat dalam buku Literasi Informasi & Media (LIM).

Buku tersebut membahas konsep dasar literasi informasi, literasi media, dan literasi digital dengan tujuan membantu masyarakat memahami kebutuhan informasi, berpikir kritis, menggunakan informasi secara etis, serta memahami berbagai bentuk media.


Di tengah ekosistem digital yang memungkinkan siapa pun menjadi produsen informasi, gagasan tersebut menjadi semakin relevan. Persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki informasi, tetapi:

Siapa yang mampu memeriksa informasi?

Siapa yang mampu membedakan fakta, opini, propaganda, dan manipulasi?

Dan siapa yang bertanggung jawab ketika informasi yang salah telah menyebar luas?


Di wilayah inilah literasi digital tidak lagi sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, melainkan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.


Menempatkan Teknologi sebagai Alat, Bukan Tujuan

Jika ditarik dari lintasan pendidikan, penelitian, pengajaran, dan karya-karyanya, terdapat satu benang merah dalam perjalanan intelektual Yusrin Ahmad Tosepu: teknologi harus dikembalikan kepada kepentingan manusia dan pendidikan.


Teknologi dapat mempercepat pekerjaan. Media digital dapat memperluas ruang komunikasi. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia mengolah informasi. Tetapi semuanya tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis.


Karena itu, tantangan terbesar era digital bukan hanya bagaimana menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan bagaimana menciptakan manusia yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, etis, dan bertanggung jawab.


Dari Akademisi ke Penggiat Literasi Publik

Perjalanan Yusrin memperlihatkan bahwa seorang akademisi tidak harus berhenti di ruang kuliah dan jurnal ilmiah. Pengetahuan juga dapat dibawa ke ruang publik. Kajian dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami. Data dapat digunakan untuk menguji klaim. Dan teknologi dapat digunakan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.


Dalam konteks itulah kiprahnya di bidang pendidikan, penelitian, komunikasi digital, dan media menjadi saling berkelindan.


Yusrin Ahmad Tosepu bukan hanya berbicara tentang teknologi; ia menempatkan teknologi dalam konteks manusia, informasi, pendidikan, dan perubahan sosial.


Di tengah era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasinya, tantangan tersebut menjadi semakin penting.


Sebab pada akhirnya, masyarakat digital tidak cukup hanya membutuhkan teknologi yang pintar. Masyarakat juga membutuhkan manusia yang mampu berpikir.


 
 
 

Comments


bottom of page