top of page
Search

GELAR TINGGI BELUM TENTU MEMBUAT PIKIRAN TINGGI

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Sep 19
2 min read


Pendidikan bisa memberi seseorang ijazah. Tetapi kecerdasanlah yang menentukan bagaimana ijazah itu digunakan.


Jangan terlalu cepat mengira seseorang cerdas hanya karena namanya dipenuhi gelar.

Ada orang yang namanya panjang karena gelarnya panjang, tetapi cara berpikirnya masih pendek.


Ada pula yang sekolahnya biasa-biasa saja, tetapi ketika berbicara mampu membuat orang bergelar panjang ikut berpikir ulang. Sebab pendidikan dan kecerdasan bukan barang yang sama.


Gelar adalah bukti bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan tertentu. Ia bukan sertifikat bahwa pemiliknya selalu benar, selalu bijaksana, atau otomatis mampu mengambil keputusan yang masuk akal.


Kecerdasan justru sering terlihat dalam perkara-perkara sederhana: bagaimana seseorang memahami persoalan, membaca situasi, mengakui kesalahan, menerima kritik, mengambil keputusan, dan memperlakukan manusia lain.


Ironisnya, pendidikan yang tinggi kadang justru membuat sebagian orang semakin pandai mempertahankan kesalahan. Ia bisa mengutip puluhan teori, tetapi sulit menerima fakta.Ia hafal banyak konsep, tetapi miskin refleksi.Ia mampu berbicara tentang etika, tetapi lupa mempraktikkannya.Ia gemar menyebut dirinya akademisi, tetapi alergi terhadap pertanyaan.


Di titik itulah pendidikan kehilangan maknanya. Sebab orang berpendidikan belum tentu terdidik cara berpikirnya. Belajar seharusnya tidak berhenti ketika ijazah diterima. Justru setelah mendapatkan gelar, seseorang semestinya semakin sadar bahwa pengetahuannya masih terbatas.


Semakin banyak membaca, semestinya semakin rendah hati.Semakin luas pengetahuan, semestinya semakin terbuka terhadap kritik.Semakin tinggi pendidikan, semestinya semakin matang memahami manusia dan kehidupan.


Kalau gelar hanya digunakan untuk menaikkan gengsi, ia sekadar menjadi hiasan administratif. Tetapi jika pengetahuan mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain, di situlah pendidikan menemukan makna sebenarnya.


Karena ukuran manusia berpendidikan bukan sekadar seberapa tinggi gelarnya, melainkan seberapa dalam ia memahami kehidupan. Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan: “Sudah berapa banyak gelar yang kita punya?” Melainkan: “Setelah belajar begitu banyak, apakah cara berpikir kita benar-benar menjadi lebih baik?”



 
 
 

Comments


bottom of page