top of page
Search

MENGEMBALIKAN PENDIDIK SEBAGAI PUSAT GRAVITASI INTELEKTUAL

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Sep 22
3 min read

KAVITA MEDIA NET, PENDIDIKAN — OPINI Oleh: Prof. Sigit Setyo Hadi, Ketua Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia (LSP3I)



Ada satu pertanyaan yang semakin relevan di tengah perubahan pendidikan hari ini: apakah guru masih menjadi pusat gravitasi intelektual di ruang kelas, atau justru perlahan tersingkir oleh teknologi, algoritma, dan banjir informasi?


Kalimat “Mengembalikan Pendidik sebagai Pusat Gravitasi Intelektual” bukan sekadar slogan. Ia adalah kritik terhadap arah pendidikan yang mulai terlalu sibuk mengejar perangkat, platform, aplikasi, sertifikat, bahkan kecanggihan artificial intelligence (AI), tetapi kadang lupa bahwa pendidikan pada akhirnya adalah proses memanusiakan manusia melalui pengetahuan, nalar, karakter, dan keteladanan.


GURU BUKAN SEKADAR PENGIRIM MATERI

Di era digital, informasi tidak lagi menjadi barang langka. Siswa dapat mencari definisi, teori, video pembelajaran, jurnal, bahkan menghasilkan tulisan menggunakan AI hanya dalam hitungan detik.


Lalu apa yang tersisa dari peran pendidik?

Justru semakin banyak. Sebab informasi bukan pengetahuan, pengetahuan bukan pemahaman, dan pemahaman belum tentu melahirkan kebijaksanaan.


Di sinilah pendidik seharusnya kembali mengambil posisi strategis. Guru bukan sekadar orang yang memindahkan materi dari buku ke kepala siswa. Guru harus menjadi pengarah cara berpikir.


Ia mengajarkan bagaimana bertanya, bagaimana meragukan informasi, bagaimana menguji bukti, bagaimana membedakan fakta dan opini, bagaimana mengenali manipulasi informasi, dan bagaimana mengambil keputusan secara bertanggung jawab.


JANGAN SAMPAI AI MENGAJAR, GURU HANYA MENGAWASI

Kehadiran AI membawa peluang besar bagi dunia pendidikan. Namun ada paradoks yang perlu diperhatikan. Semakin pintar teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pendidik yang memiliki nalar kritis.


Sebab AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi peserta didik tetap membutuhkan manusia yang mengajarkan:

“Apakah jawaban itu benar?”

AI dapat menyusun tulisan.

Tetapi siapa yang mengajarkan apakah tulisan tersebut memiliki argumentasi?


AI dapat memberikan informasi. Tetapi siapa yang mengajarkan cara memeriksa sumber? AI dapat menghasilkan berbagai kemungkinan jawaban.

Tetapi siapa yang membentuk etika dalam memilih dan menggunakan jawaban tersebut?


Karena itu, persoalannya bukan guru versus AI. Persoalannya adalah bagaimana guru menggunakan AI tanpa menyerahkan fungsi berpikir kepada AI.


PENDIDIK HARUS MENJADI PUSAT GRAVITASI, BUKAN PUSAT KEKUASAAN

Menempatkan pendidik sebagai pusat gravitasi intelektual bukan berarti mengembalikan model pendidikan lama yang menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran.


Justru sebaliknya. Guru yang menjadi pusat gravitasi intelektual adalah guru yang mampu menciptakan ruang bagi pertanyaan, perdebatan, penelitian, eksperimen, kesalahan, koreksi, dan penemuan.


Guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Tetapi guru harus menjadi orang yang paling mampu mengarahkan proses untuk mencari tahu.

Itulah perbedaannya.


Pendidik yang kuat bukan yang membuat murid takut bertanya. Pendidik yang kuat adalah yang membuat murid berani mempertanyakan sesuatu dengan alasan dan bukti.


KRISIS PENDIDIKAN BUKAN HANYA KRISIS KURIKULUM

Kita terlalu sering membicarakan pendidikan melalui pergantian kurikulum, digitalisasi sekolah, perangkat pembelajaran, platform pendidikan, dan berbagai program baru.

Semua itu penting.


Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah kita sedang memperkuat kualitas manusia yang mendidik, atau hanya memperbanyak perangkat yang digunakan untuk mendidik?


Sebab sekolah yang memiliki teknologi canggih belum tentu menghasilkan manusia yang kritis. Kelas yang penuh perangkat digital belum tentu melahirkan pembelajar mandiri.


Dan sekolah dengan segudang program belum tentu berhasil membangun karakter.

Pendidikan pada akhirnya tetap membutuhkan manusia yang mampu membimbing manusia lainnya.


KEMBALIKAN WIBAWA INTELEKTUAL GURU

Yang perlu dikembalikan bukan sekadar kewibawaan administratif guru. Bukan pula otoritas untuk menyuruh siswa diam dan patuh. Yang perlu dikembalikan adalah wibawa intelektualnya.


Guru harus memiliki ruang untuk membaca.

Ruang untuk meneliti.

Ruang untuk berdiskusi.

Ruang untuk memperbarui pengetahuan.

Ruang untuk mengembangkan metode.

Dan yang paling penting: ruang untuk berpikir.


Sebab sulit mengharapkan guru membangun budaya berpikir kritis apabila gurunya sendiri terus dibebani oleh rutinitas administratif dan ukuran-ukuran yang lebih sibuk menghitung dokumen daripada mengukur kedalaman proses pembelajaran.


PENDIDIK ADALAH PENJAGA NALAR

Di tengah banjir informasi, hoaks, konten manipulatif, deepfake, propaganda digital, dan jawaban instan AI, sekolah seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang pandai menjawab soal.


Sekolah harus menghasilkan manusia yang mampu bertanya:

Mengapa?

Dari mana informasi ini berasal?

Apa buktinya?

Siapa yang diuntungkan?

Apa konsekuensinya?

Apakah ini benar atau hanya terlihat benar?


Di titik itulah pendidik menjadi penting.

Sebab pendidikan yang kehilangan kemampuan membangun nalar hanya akan menghasilkan manusia yang cepat memperoleh informasi tetapi lambat memahami kebenaran. Maka, mengembalikan pendidik sebagai pusat gravitasi intelektual bukan nostalgia terhadap masa lalu.

Ini adalah agenda masa depan.


Teknologi boleh semakin pintar. AI boleh semakin cepat. Informasi boleh semakin melimpah. Tetapi selama manusia masih harus menentukan apa yang benar, apa yang bernilai, dan apa yang layak dilakukan, pendidikan tetap membutuhkan pendidik yang berpikir.


Karena sekolah tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang tahu banyak. Sekolah harus melahirkan manusia yang tahu bagaimana berpikir. Dan untuk itu, guru tidak boleh kehilangan tempatnya sebagai pusat gravitasi intelektual.


 
 
 

Comments


bottom of page