KETIKA ALGORITMA MENJADI BOS BARU KEHIDUPAN MANUSIA
Oleh: Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom M.Ikom M.Kom

Algoritma tidak lagi sekadar menghitung. Ia memilih apa yang kita lihat, menentukan apa yang kita dengar, memprediksi apa yang kita inginkan dan perlahan ikut membentuk cara kita berpikir. - YAT
Ada sebuah perubahan besar yang berlangsung nyaris tanpa suara. Kita tidak melihat pabrik raksasa. Tidak mendengar suara mesin produksi. Tidak melihat buruh berbaris di dalam ruang industri.
Tetapi setiap kali kita membuka media sosial, melakukan pencarian, menonton video, menggunakan aplikasi, berbelanja secara daring, atau berinteraksi dengan kecerdasan buatan, ada sesuatu yang sedang diproduksi: data tentang diri kita. Di sinilah wajah baru kapitalisme muncul.
Bukan hanya kapitalisme yang menjual barang. Bukan sekadar kapitalisme yang menguasai modal. Melainkan kapitalisme algoritma sebuah sistem ekonomi yang menjadikan data, perhatian, perilaku, prediksi, dan kemampuan memengaruhi manusia sebagai sumber nilai.
Dari Modal ke Data
Kapitalisme klasik bertumpu pada kepemilikan modal dan alat produksi. Kapitalisme digital menggeser sebagian pusat kekuasaan itu ke platform, jaringan, infrastruktur komputasi, dan data.
Sementara kapitalisme algoritma membawa perubahan lebih jauh. Yang diperebutkan bukan hanya apa yang kita beli, tetapi apa yang kita lihat, apa yang kita klik, berapa lama kita bertahan, apa yang kita sukai, siapa yang kita percaya, dan apa yang kemungkinan akan kita lakukan berikutnya.
Algoritma mempelajari perilaku manusia. Kemudian perilaku itu digunakan untuk menghasilkan prediksi. Prediksi digunakan untuk melakukan personalisasi. Personalisasi digunakan untuk mempertahankan perhatian. Dan perhatian dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Maka muncul sebuah rantai baru: DATA → PREDIKSI → PERHATIAN → PENGARUH → NILAI EKONOMI. Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai.
Kita Bukan Lagi Sekadar Pengguna
Selama ini kita merasa sedang menggunakan teknologi.Kita membuka TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, Google, marketplace, atau berbagai aplikasi AI karena kita membutuhkan layanan.
Tetapi hubungan itu tidak sepenuhnya satu arah. Kita menggunakan platform.
Pada saat yang sama, platform mempelajari kita.
Apa yang kita tonton.
Apa yang kita lewati.
Apa yang membuat kita berhenti.
Apa yang membuat kita marah.
Apa yang membuat kita tertawa.
Apa yang membuat kita membeli.
Bahkan kapan kita biasanya aktif.
Setiap interaksi dapat menjadi sinyal.
Di era algoritmik, manusia berpotensi berubah dari pengguna menjadi objek prediksi.
Kita bukan hanya mengonsumsi informasi. Kita juga menghasilkan data yang dapat digunakan untuk memprediksi perilaku kita.
Algoritma Tidak Netral
Ada anggapan bahwa algoritma hanyalah kode komputer. Pandangan tersebut terlalu sederhana. Algoritma memang bekerja melalui kode, tetapi kode dibuat oleh manusia, berdasarkan tujuan tertentu, menggunakan data tertentu, dengan parameter tertentu, dan ditempatkan dalam struktur ekonomi serta institusi tertentu.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Bagaimana algoritma bekerja?”
Tetapi:
“Untuk kepentingan siapa algoritma bekerja?”
Algoritma sebuah platform dapat dirancang untuk meningkatkan keterlibatan.
Algoritma perdagangan dapat diarahkan untuk meningkatkan konversi.
Algoritma rekomendasi dapat mengoptimalkan waktu penggunaan.
Algoritma periklanan dapat mengoptimalkan kemungkinan seseorang melakukan tindakan tertentu.
Dan AI generatif dapat membantu manusia menghasilkan teks, gambar, kode, analisis, bahkan keputusan.
Teknologinya mungkin berbeda. Tetapi pertanyaan kekuasaannya tetap sama: Siapa yang menentukan tujuan? Siapa yang memiliki data? Siapa yang mengendalikan infrastruktur? Siapa yang mendapatkan keuntungan? Dan siapa yang menanggung risikonya?
Ekonomi Perhatian
Kapitalisme algoritma berkembang di atas satu sumber daya yang sangat terbatas:
perhatian manusia.
Waktu kita terbatas.
Perhatian kita terbatas.
Kemampuan kita memproses informasi juga terbatas.
Namun platform digital dapat bersaing tanpa henti untuk merebut perhatian tersebut.
Karena itu, konten yang paling bernilai secara ekonomi tidak selalu konten yang paling penting bagi masyarakat.
Konten yang mendapatkan perhatian paling besar justru dapat menjadi konten yang paling mengundang emosi.
Marah.
Takut.
Cemas.
Terkejut.
Kontroversi.
Sensasi.
Di titik ini, muncul persoalan serius bagi ekosistem informasi. Jika perhatian menjadi mata uang, maka emosi manusia dapat menjadi mesin ekonomi.
Dan ketika algoritma belajar bahwa kemarahan membuat orang bertahan lebih lama daripada ketenangan, sistem memiliki insentif untuk terus menyajikan hal-hal yang memicu kemarahan.
Bukan karena algoritma “membenci” manusia.
Algoritma tidak memiliki kebencian. Tetapi karena fungsi optimasinya dapat mengejar metrik yang salah. AI Membawa Kapitalisme Algoritma ke Level Baru
Kecerdasan buatan memperluas persoalan tersebut.
AI tidak hanya membaca data.
AI dapat menghasilkan konten.
Teks.
Gambar.
Video.
Suara.
Kode.
Ringkasan.
Rekomendasi.
Analisis.
Dengan AI, biaya produksi informasi turun drastis. Masalahnya, ketika produksi konten menjadi sangat murah, kemampuan manusia untuk memverifikasi informasi tidak bertambah dengan kecepatan yang sama.
Kita memasuki situasi yang paradoks: mesin semakin cepat menghasilkan informasi, sementara manusia semakin sulit menentukan mana yang layak dipercaya.
Di sinilah literasi digital konvensional tidak lagi cukup. Masyarakat membutuhkan literasi algoritmik dan literasi AI. Bukan hanya kemampuan menggunakan AI.
Tetapi kemampuan memahami bagaimana AI bekerja, bagaimana data digunakan, bagaimana bias muncul, bagaimana rekomendasi dibentuk, bagaimana konten sintetis diproduksi, dan bagaimana kepentingan ekonomi dapat memengaruhi sistem digital.
Bahaya Terbesar Bukan AI yang Menggantikan Manusia
Perdebatan tentang AI sering terjebak pada pertanyaan: “Apakah AI akan menggantikan manusia?” Menurut saya, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan paling penting.
Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: “Apakah manusia masih mampu mengambil keputusan ketika lingkungan informasinya semakin banyak dibentuk oleh algoritma?”
Karena persoalannya bukan semata-mata apakah mesin dapat menggantikan pekerjaan manusia. Persoalannya adalah apakah manusia kehilangan otonomi berpikir.
Jika mesin menentukan apa yang kita baca, apa yang kita tonton, apa yang kita beli, siapa yang kita ikuti, informasi apa yang kita percaya, dan bahkan bagaimana kita memandang realitas, maka persoalannya telah bergeser dari teknologi menuju kekuasaan.
Dari Konsumen Menjadi Produk
Dalam ekonomi digital, kita sering mengatakan bahwa layanan tertentu “gratis”. Tetapi sesuatu yang gratis belum tentu tidak memiliki harga.
Harga itu bisa berupa data.
Perhatian.
Perilaku.
Preferensi.
Jejak digital.
Dan kemampuan sistem untuk memprediksi kita.
Karena itu, salah satu pertanyaan paling penting dalam ekonomi digital adalah:
Jika kita tidak membayar dengan uang, dengan apa sebenarnya kita membayar?
Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap layanan.
Tetapi semakin jelas bahwa data dan perhatian merupakan aset ekonomi yang sangat bernilai.
Indonesia Tidak Boleh Sekadar Menjadi Pasar
Indonesia memiliki populasi digital yang besar. Ini adalah peluang ekonomi. Tetapi sekaligus risiko strategis. Jika masyarakat hanya menjadi pengguna, sementara data, platform, model AI, infrastruktur komputasi, dan nilai ekonomi terbesar berada di luar negeri, maka Indonesia berpotensi menjadi pasar digital yang besar tetapi tidak menjadi pemilik utama nilai digitalnya.
Karena itu, agenda transformasi digital Indonesia tidak cukup berhenti pada pembangunan jaringan internet dan peningkatan jumlah pengguna.
Kita membutuhkan: kedaulatan data, kapasitas komputasi, talenta AI, riset, regulasi yang adaptif, keamanan siber, transparansi algoritmik, dan pendidikan yang mampu membentuk manusia kritis.
Teknologi harus menjadi instrumen pembangunan. Bukan mesin ekstraksi nilai dari masyarakat. Melawan Kapitalisme Algoritma Bukan Berarti Menolak Teknologi Kita tidak membutuhkan gerakan anti-teknologi. Kita membutuhkan manusia yang lebih berdaulat terhadap teknologi.
Algoritma tidak harus menjadi musuh. AI juga tidak harus menjadi ancaman. Masalahnya muncul ketika manusia menyerahkan terlalu banyak keputusan kepada sistem yang tidak dipahami.
Karena itu prinsipnya sederhana: AI boleh membantu manusia berpikir, tetapi AI tidak boleh mengambil alih tanggung jawab manusia untuk berpikir.
Manusia harus tetap menjadi subjek.
Bukan sekadar sumber data.
Bukan sekadar target iklan.
Bukan sekadar angka engagement.
Bukan sekadar profil perilaku.
Dan bukan sekadar objek prediksi.
Pertanyaan yang Harus Kita Ajukan
Di era kapitalisme algoritma, pertanyaan paling penting bukan lagi: “Apa yang bisa dilakukan teknologi?” Tetapi:
“Apa yang seharusnya dilakukan teknologi?”
Siapa yang menentukan?
Untuk siapa?
Dengan data siapa?
Dengan risiko siapa?
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika sistem tersebut salah?
Sebab masa depan teknologi pada akhirnya bukan hanya persoalan kecanggihan mesin.
Ia adalah persoalan kualitas manusia yang mengendalikan mesin tersebut.
Kita sedang memasuki zaman ketika algoritma semakin mampu membaca manusia.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa manusia tetap mampu membaca algoritma.
Karena ketika manusia gagal memahami algoritma, bukan tidak mungkin suatu hari kita hidup dalam sistem yang kita gunakan setiap hari tetapi tidak lagi sepenuhnya kita pahami.
Dan pada titik itulah kapitalisme algoritma tidak hanya menjual kepada kita. Ia mulai menentukan apa yang layak kita lihat, pikirkan, inginkan, dan kejar.
#KapitalismeAlgoritma #KAVITAMediaNet #Algoritma #KecerdasanBuatan #AI #ArtificialIntelligence #EkonomiDigital #KapitalismeDigital #Data #BigData #EkonomiPerhatian #AttentionEconomy #LiterasiDigital #LiterasiAI #LiterasiAlgoritmik #KedaulatanData #TransformasiDigital #TeknologiDigital #MasaDepanAI #EtikaAI #EtikaTeknologi #MasyarakatDigital #DigitalSociety #KekuasaanAlgoritma #DataIsPower #HumanAgency #AIForHumanity #CriticalThinking #NalarPublik #JurnalismeDigital



Comments