top of page
Search

Menggugat Keberadaan Guru dan Dosen di Era AI

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Mar 15
3 min read

Oleh: Dr. Ismail Razak (Pemerhati dan Pengamat Pendidikan LSP3I)


Kita menyadari Revolusi digital saat ini bukan sekadar perubahan medium, melainkan sebuah tsunami existential yang tengah menghantam fondasi profesi guru dan dosen. Di era di mana jawaban atas hampir semua pertanyaan manusia tersedia di ujung jari, kita harus berani bertanya dengan keras: Apakah profesi pendidik masih relevan, atau mereka hanya menjadi "pengganggu" dalam ekosistem belajar generasi baru?

 

Berikut patologi pendidikan kita hari ini:

 

1. Trah "Junjung Buku" versus Kehausan Informasi Real-Time

Analisis kritis kita harus mulai dari ruang kelas. Sampai kapan lagi kita akan mentoleransi guru dan dosen yang hanya menjadi "mesin fotokopi manusia"? Membacakan slide PowerPoint yang isinya diambil verbatim dari buku teks bukanlah mengajar; itu adalah pembodohan yang dibayar mahal oleh negara atau mahasiswa.

 

Di era digital, mahasiswa dan siswa memiliki akses ke Stanford Encyclopedia of Philosophy atau jurnal Nature dalam hitungan detik. Namun, apa yang terjadi di kelas? Pendidik seringkali justru menjadi penghalang arus informasi ini, memaksakan kurikulum yang ketinggalan zaman dan metodologi yang kaku. Jika seorang dosen tidak mampu memberikan nilai tambah di luar apa yang sudah bisa digoogle, maka kehadirannya di kelas adalah pemborosan sumber daya dan waktu.

 

2. Sindrom "Kepongahan" di Balik Kejahilan Digital

Ini adalah ironi yang memilukan. Kita menyaksikan banyak pendidik yang gagap digital, namun sombong secara intelektual. Mereka memposisikan diri sebagai satu-satunya "pemilik kebenaran" di kelas, murid hanya boleh mendengar, tidak boleh menyanggah. Sikap ini adalah bentuk kekerasan intelektual yang tidak lagi relevan.

 

Pendidik era digital yang masih memegang paradigma "transfer ilmu" secara satu arah sedang membangun kuburannya sendiri. Mereka larut dalam nostalgia kejayaan lama saat guru dianggap sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa", tanpa menyadari bahwa generasi alpha dan Gen Z tidak butuh pahlawan, mereka butuh fasilitator yang kritis dan literat teknologi. Melarang gawai di kelas bukanlah solusi disiplin, melainkan bentuk ketakutan pendidik yang kalah cepat dari akses informasi muridnya.

 

3. Kematian Kritisitas: Lulusan yang Cerdas Canggih tapi Buta Moral

Kegagalan paling keras dari guru dan dosen saat ini adalah ketidakmampuan mereka menjadi filter dari arus deras informasi digital. Tugas utama pendidik hari ini bukan lagi mengisi "ember kosong" (siswa) dengan air (ilmu), melainkan mengajarkan mereka cara menyaring racun dari oksigen di dunia maya.

 

Fakta pahitnya, banyak lulusan kita yang tech-savvy namun value-blind. Mereka pandai menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, namun tidak memiliki integritas akademik. Mereka pandai mem-viral kan konten, namun buta akan etika digital. Ini adalah kegagalan total dari pendidik. Ketika guru sibuk mengejar target nilai ujian (skor PISA atau IPK), mereka melupakan tugas suci mereka: membentuk karakter manusia di tengah dunia yang semakin tidak manusiawi.

 

4. Ancaman Kepunahan: Menjadi Relevan atau Pergi Selamanya

Mari kita bicara soal AI (Kecerdasan Buatan). ChatGPT dan sejenisnya bukan ancaman, melainkan pengadilan bagi kualitas pendidik kita. Jika seorang dosen hanya memberikan tugas esai klise yang jawabannya bisa dibuat AI dalam 5 detik, maka dosen tersebut telah gagal mendesain pembelajaran.

 

Pendidik yang bertahan dengan metode konvensional akan punah. Yang akan bertahan hanyalah mereka yang mampu bertransformasi menjadi "Learning Architect" mereka yang tidak hanya mengajarkan what (apa), tetapi why (mengapa) dan how (bagaimana) dalam lautan informasi digital. Namun pertanyaannya, apakah mayoritas pendidik kita siap untuk "mati" sebagai penguasa kelas dan "lahir" kembali sebagai rekan belajar siswa? Atau mereka akan terus melawan arus dengan kepongahan dan kediktatoran akademik?

 

Kesimpulan

 

Era digital dengan perkembangan dan kemajuan teknologi AI tidak memberi ampun pada mereka yang berhenti belajar. Profesi guru dan dosen saat ini sedang berada di ambang jurang: berubah total atau kehilangan hakikat. Kita tidak butuh pendidik yang hanya sekadar menghadiri kelas untuk mencari gaji atau tunjangan.

 

Kita butuh pendidik yang berani menghancurkan dogma lama, yang berani menyematani siswa melahap informasi mentah dunia digital, dan yang memiliki nyali intelektual untuk tidak hanya menjadi "lebih pintar" dari muridnya, tetapi menjadi lebih bijak. Jika tidak, biarkanlah teknologi mengambil alih peran mereka karena lebih baik tidak ada guru sama sekali, daripada memiliki guru yang hanya menjadi "patung yang bersuara" di depan kelas dan dosen yang yang hanya mengadalkan slide PowerPoint yang membosankan.


 
 
 

Comments


bottom of page