Pendidikan dan Keberanian untuk Bertanya

Pendidikan, dalam arti yang paling dasar, adalah usaha manusia memahami pengalaman. Ia berlangsung melalui pancaindra, pikiran, interaksi, kesalahan, keberhasilan, dan kemampuan untuk memaknai kembali apa yang telah dialami. Karena itu, pendidikan tidak pernah menjadi monopoli sekolah.
Manusia belajar sejak membuka mata di pagi hari: ketika mengamati lingkungan, berbicara dengan orang lain, menghadapi persoalan, mengalami kegagalan, membuat keputusan, bahkan ketika menyadari bahwa sesuatu yang selama ini diyakininya ternyata perlu dipertanyakan kembali.
Sekolah hanyalah salah satu ruang pendidikan penting, tetapi bukan satu-satunya. Di dalam pendidikan setidaknya terdapat dua wajah yang sering kali tercampur. Pertama adalah praktik pendidikan, yaitu tindakan konkret seperti mengajar, membimbing, melatih, mendisiplinkan, menegur, memberi penghargaan, dan menciptakan pengalaman belajar. Kedua adalah teori pendidikan, yaitu usaha untuk memahami mengapa tindakan-tindakan tersebut dilakukan, ke mana arahnya, dan manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui proses tersebut.
Masalah muncul ketika praktik berjalan tanpa refleksi. Sebuah sekolah dapat memiliki kurikulum, jadwal pelajaran, metode pembelajaran, perangkat asesmen, teknologi, dan berbagai program unggulan. Namun, semua itu belum otomatis menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa kita mendidik?
Praktik yang tidak ditopang pemikiran dapat membuat pendidikan sekadar menjadi rutinitas. Kegiatan tetap berlangsung, administrasi tetap selesai, nilai tetap diberikan, tetapi arah pendidikan perlahan kehilangan makna. Di sinilah filsafat pendidikan memperoleh tempatnya.
Filsafat tidak harus dipahami sebagai kumpulan pemikiran yang rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan, filsafat dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: keberanian untuk bertanya.
Untuk apa anak dididik?
Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?
Apakah pendidikan bertujuan menghasilkan manusia yang patuh, terampil, kritis, kreatif, mandiri, berkarakter, atau mampu menentukan kehidupannya sendiri?
Apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan ketika dunia berubah begitu cepat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan akademik. Jawaban yang kita berikan akan memengaruhi cara kita mengajar, mendisiplinkan anak, menyusun kurikulum, menilai keberhasilan, memperlakukan kesalahan, bahkan menentukan apa yang dianggap penting dalam kehidupan seorang peserta didik.
Setiap pandangan tentang manusia pada akhirnya melahirkan cara mendidik yang berbeda. Ada pemikiran yang menempatkan lingkungan sebagai kekuatan utama dalam membentuk manusia. Ada pula yang melihat manusia membawa potensi tertentu sejak lahir dan pendidikan bertugas membantu potensi tersebut berkembang. Ada yang menekankan pengalaman, kebebasan, disiplin, masyarakat, kebudayaan, bahkan pembentukan kesadaran kritis.
Menariknya, seseorang tidak harus membaca buku filsafat untuk sebenarnya telah menjalankan sebuah filsafat pendidikan. Ketika orang tua mengatakan, “Anak harus dibiasakan patuh,” di dalamnya terdapat pandangan tertentu tentang manusia dan hubungan antara anak dengan otoritas.
Ketika guru berkata, “Anak harus diberi kesempatan menemukan jawabannya sendiri,” terdapat pandangan lain tentang proses belajar dan posisi peserta didik.
Ketika sekolah mengukur keberhasilan terutama melalui nilai, terdapat pula asumsi tertentu tentang apa yang dianggap sebagai keberhasilan pendidikan.
Dengan kata lain, setiap praktik pendidikan membawa asumsi filosofis, disadari ataupun tidak. Karena itu, persoalan pendidikan sesungguhnya bukan hanya bagaimana mengajar dengan lebih efektif, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa efektivitas tersebut diarahkan kepada tujuan yang memang layak diperjuangkan.
Opini ini mengajak pembaca berhenti sejenak dari kesibukan mengajar, mendidik, mengasuh, dan mengelola lembaga pendidikan. Bukan untuk meninggalkan praktik. Justru untuk kembali kepadanya dengan kesadaran yang lebih dalam.
Kita diajak bertanya kembali: pendidikan macam apa yang sedang kita jalankan hari ini? Nilai apa yang sebenarnya sedang kita tanamkan? Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk? Dan untuk siapa seluruh proses pendidikan itu pada akhirnya diarahkan?
Mungkin kita akan menemukan bahwa jawaban atas persoalan pendidikan tidak selalu dimulai dengan metode baru, kurikulum baru, teknologi baru, atau kebijakan baru. Kadang-kadang, pendidikan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: keberanian untuk berhenti sejenak, lalu mengajukan pertanyaan yang tepat.
Sebab sebelum kita menentukan bagaimana manusia harus dididik, kita perlu terlebih dahulu bertanya: manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan melalui pendidikan?



Comments